
Perjalanan menuju Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo di Pagi Hari

Tanjakan cinta dan Ranu Kumbolo
Dilain pagi esoknya, Latar : lereng semeru, 50 meter mendekati puncak, musik: mahadewi (Padi), berjuta bintang menyapa kami yang lelah, yang lalu berpeluh, yang setiap lima meter berhenti langkah, sejenak mendongak keatas, mencari nafas. tak terasa hampir empat jam sudah kami berjalan dari kalimati tempat kami meninggalkan tenda. Bagi Cus, Cinta itu seperti naik gunung. Perlu usaha, persiapan, aksi bukan sekedar kata, proses, pengorbanan, dan ketika kamu mencapai puncaknya,, semuanya akan terlihat indah.. tepat jam 5.45 pagi akhirnya kami sampai di puncak tertinggi jawa, Mahameru, Untuk kali itu, detik itu, kami, belasan manusia berbagi tempat menjadi orang tertinggi setanah jawa.. Setidaknya, kami pernah merasakan posisi yang lebih tinggi daripada pejabat-pejabat tinggi yang sibuk memainkan uang setan hasil palakan para iblis dilingkaran jahanam. Sukacita, Bahagia, Bangga, Narsis, Diam, menjadi satu. Letupan semeru kadang-kadang muncul menjadikan suasana lebih seru, belum lagi bincang-bincang dengan pendaki lain menjadi santapan pagi yang bersahabat.

Mahameru

berbagi cerita di puncak

soe hok gie dan idhan lubis

semburat indah
Tak kurang sejam kami disana berbagi ria dan syukur, kami usaikan untuk meluncur turun.

lereng semeru
Saya berbisik dalam hati sambil melayangkan benak pada seseorang di bandung sana, untuk kasus semeru, cinta itu tidak seperti mendaki gunung, karena sesuatu yang indah dan sulit didefinisikan dengan kata, sesuatu yang yang benar-benar tidak bisa kamu bohongi secara logika dan hati nurani kadang-kadang tidak selalu berada di puncak. Sekali ini aku menemukannya di Ranu Kumbolo.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar